Inilah Pasukan Perang di Surabaya 10 November 1945

Pertempuran besar pada 10 November 1945 yang dikenal sebagai Hari Pahlawan bukan tanpa persiapan. Keluarnya resolusi jihad yang dicetuskan oleh Rais Akbar Hadaratusy Syaikh Hasyim Asy’ari juga dan kemudian memicu pertempuran besar di Surabaya itu ternyata dimotori oleh Pasukan Hizbullah dan Pasukan Sabililah.

Terbentuknya pasukan ini adalah berkat diplomasi dari Khatib Nahdatul Ulama (NU) KH Wahab Chasbullah kepada Pemerintah Jepang saat masih berkuasa di Indonesia.

Sejarawan NU Choirul Anam mengatakan, saat Jepang masih berperang melawan sekutu, di Indonesia Jepang banyak melatih penduduk-penduduk sipil untuk ikut dalam tentara PETA (Pembela Tanah Air). Tujuan pembentukan PETA oleh Jepang adalah untuk mempertahankan Jepang sebagai penguasa Asia Timur Raya.

Peta dibentuk pada 3 Oktober 1943. Saat itu Wahib Wahab, putra KH Wahab Chasbullah dan Kholiq Hasyim, putra KH Hasyim Asy’ari juga masuk sebagai anggota PETA.

“Di sinilah cerdiknya dua kiai ini. Mereka memasukkan dua putranya untuk ikut sebagai tentara PETA,” kata Cak Anam kepada Okezone di Graha Amerta, Surabaya.

Dua Kiai ini membuat taktik bahwa ketika Pasukan PETA dikirim berperang untuk membela Asia Timur Raya, maka akan terjadi kekosongan pemerintahan di Indonesia. Oleh karena itu diperlukan tentara cadangan yang tidak ikut berperang hanya berjaga di Indonesia. Hasil lobi Mbah Wahab (KH Wahab Chasbullah), agar para satri juga dikirim untuk ikut sebagai tentara cadangan.

Permintaan itupun dikabulkan oleh Kumakichi Harada yang saat itu menjabat sebagai panglima PETA. “Akhirnya para santri ini diberangkatkan ke Cibarusa, Bogor. Di sana ada masjid yang dulu sebagai kamp pelatihan para santri selama 6 bulan,” kata mantan Ketua GP Ansor Jawa Timur ini.

Hingga akhirnya, pada Februari 1945, kata Cak Anam, terbentuklah pasukan Hizbulloh. Jepang memang tidak mengetahui arti dari tentara Hizbulloh. Saat itu ada 500 orang tentara Hizbulloh yang merupakan alumni dari pelatihan di Cibarusa, Bogor.

Dari jumlah tersebut diambil lulusan terbaik sebagai panglima yakni Zainul Arifin. Zainul Arifin memegang tampuk kepemimpinan tertinggi dalam tentara Hizabulloh.

“Mbah Wahab meminta kepada Jepang agar tentara cadangan ini tidak dikirim dalam perang Asia Timur Raya. Mereka harus berada di Indonesia. Dalam waktu yang cukup dekat, tentara Hizbulloh berkembang menjadi 500 ribu tentara yang strukturnya seluruh Indonesia,” jelas Cak Anam.

Sayangnya, tidak banyak literatur yang menjelaskan, siapa sosok Zainul Arifin ini. Kata Cak Anam, sistem penjajahan Jepang memang berbeda dengan Belanda. Belanda lebih mengakomodir kaum bangsawan atau ningrat.

Sementara Jepang lebih mengakomodir kalangan kiai dan santri. Itulah alasannya kenapa diplomasi Mbah Wahab terkait pembentukan tentara cadangan disetujui oleh pihak Jepang.

Di bawah kepemimpinan Panglima Zainul Arifin melatih pasukan Sabililah. Pasukan inilah yang menarik masyarakat sipil untuk ikut berjuang untuk merebut kemerdeakaan Indonesia.

Pasukan Sabililah ini terpusat di Masjid Blimbing, Malang di bawah kepemimpinan KH Masykur. Baik Hizbullah maupun Sabilillah tetap dalam komando KH Wahab Chasbulloh.

Mbah wahab sendiri membentuk barisan MBO (Markas Besar Oelama). Barisan ini berpusat di kawasan Waru, Sidoarjo. Barisan ini terdiri dari kumpulan kiai-kiai ampuh yang memiliki kekuatan batin yang sangat kuat.

Ketika resolusi Jihad dicetuskan pada tanggal 22 Oktober, semua pasukan sudah siap untuk mempertahankan kemerdekaan Indonesia. Gerakan pasukan terlatih seperti Hizbulloh, Sabililah, dan MBO bergabung dengan gerakan masyarakat sipil yang digelorakan oleh Bung Tomo (Soetomo).

“Semua lini datang ke Surabaya. Saat itu, pasukan sekutu menggempur Surabaya dari berbagai penjuru. Pemicunya adalah tragedi penyobekan bendera Belanda di Hotel Oranje Surabaya,” pungkasnya.

SUMBER : OKEZONE.COM

Add Comment